Selasa, 14 Agustus 2012

Legen, Minuman Paling Dicari Saat Buka Puasa



Bulan Puasa kali ini memberikan berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat penjual minuman legen. Minuman yang murni diperoleh dari pohon siwalan ini, paling banyak dicari oleh masyarakat untuk menghilangkan dahaga pada saat berbuka puasa. Minggu (23/07)
“Pada saat bulan puasa seperti ini banyak sekali yang mencari minuman legen untuk berbuka puasa, kebanyakan warga dari luar Desa Boto yang datang langsung untuk mencari minuman legen yang asli.” terang Sarmuji ( 45) warga Desa Boto yang sehari-hari menjual minuman legen.
Pada momen puasa seperti ini untuk mendapatkan minuman legen banyak dijumpai di gang-gang rumah di Desa Boto Kecamatan Semanding. Desa Boto salah satu desa yang ada di Kabupaten Tuban sebagai sentral penghasil minuman legen dan buah siwalan.
“Tidak sulit pada bulan puasa saat ini untuk mendapatkan minuman legen, sebab mayoritas warga Desa Boto mempunyai pohon siwalan dan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari warga mengandalkan pohon siwalan.” Tandasnya.
“Disamping itu warga yang pada hari-hari biasa mengolah getah pohon siwalan menjadi toak pada bulan puasa seperti ini banyak yang mengolah menjadi minuman legen dan dijual di setiap gang rumah mereka,” tambahnya.
Keuntungan yang diperoleh apabila dibandingkan dengan hari-hari biasa bisa mencapai 50 persen, dalam sehari pada hari-hari biasa paling banyak bisa menjual 20 – 30 liter minuman legen dengan harga Rp. 4000/liter atau bisa dengan cara dijual perbotol isi 1,5 liter dengan harga Rp. 7000, sedangkan untuk bulan puasa minuman legen yang terjual bisa 40 – 50 liter perhari dengan harga yang sama, sehingga kalau dirupiahkan untuk hari-hari biasa para penjual minuman legen bisa mendapatkan Rp. 100.000/hari tetapi pada saat bulan puasa seperti ini bisa meraup keuntungan Rp. 150.000/hari.
“Alhamdulillah untuk hari-hari biasa paling banyak mendapatkan uang Rp. 100.000, tetapi pada saat bulan puasa pada saat ini, bisa meraup sekitar Rp. 150.000 perhari,” tandasnya.
Untuk mendapatkan 20 sampai 40 liter minuman legen, Sarmuji mempunyai sekitar 15 pohon siwalan sendiri, yang ditanam dipinggiran ladang. Sedangkan dalam sehari bisa 2 kali mengambil dari pohonya setiap pagi dan sore.
“Untuk setiap hari saya bisa mengambil legen dari pohonya 2 kali pagi dan sore , namun yang terbanyak pengambilan pertama pada pagi hari kalau disore hari tidak seberapa air legen yang didapatkan,” tuturnya.
Untuk memproduksi minuman legen ternyata tidaklah mudah, sebab dibutuhkan kebersihan wadah untuk tempat penyimpanan air yang menetes pada pohon siwalan, tidak seperti minuman toak yang tidak perlu membersihkan wadah tetesan air pada pohon siwalan.

“Untuk mengolah getah pohon siwalan menjadi legen memang cukup rumit sebab betek (wadah untuk meyimpan setiap tetesan getah) harus benar-benar bersih, sebab kalau tidak benar-benar bersih, jadinya toak tidak legen lagi.” Pungkasnya.

0 Komentar:

Posting Komentar