Selasa, 14 Agustus 2012

Pantai Tuban Masih Suguhkan Pesona



Hamparan pasir di sepanjang pantai Tuban memang tak seputih pasir di Pantai Pasir Putih Banyuwangi. Onggokan sampah tampak memenuhi setiap sudut. Sebagian terseret ombak membuat air laut jadi tampak kotor. Berbagai macam sampah bisa ditemui di sini. Plastik bekas kemasan makanan ringan, karung goni, pakaian dalam bahkan kotoran manusia, semua tersaji di sepanjang pantai.
Tetapi buat Deni, sampah-sampah itu tak terlalu mengusik. Ia bahkan tak mengkhawatirkan dua anaknya bermain pasir dan air laut di pantai yang berada persis di bahu jalan arteri nasional itu. Dia sendiri tampak asyik bersanding dengan istrinya di bibir perahu yang tertambat di tepian. “Kami biasa kok ‘momong’ anak-anak di pantiai ini,” kata Deni santai.
Memang, sambung Deni, akan lebih bagus lagi jika sampah-sampah tak berserakan di pasir pantai yang sebenarnya putih lembut itu. Deni melihat, pantai yang masuk wilayah Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban Kota itu, berpotensi besar menjadi salah satu sumber pendapatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Setahunya, pantai Karangsari tak pernah sepi, terutama di sore hari.
“Bukan cuma panorama pantai yang menarik, deretan perahu dan kesibukan nelayan itu juga asset wisata potensial. Saya sering ngajak anak-anak ke sini. Kadang pulang bawa ikan segar, beli dari nelayan yang baru tambat labuh. Anak-anak juga bisa lebih memahami kehidupan nelayan,” kata Deni.
Heri melontarkan pendapat hampir sama dengan Deni. Bujang yang mengaku berasal dari Bekasi, Jawa Barat itu sedikit menyayangkan kurang terawatnya pantai Karangsari. Menurutnya, hanya Tuban yang memiliki garis pantai berhimpit dengan jalan arteri nasional di Pulau Jawa ini. “Ini tempat rest area paling tepat, karena berada persis disisi jalan arteri nasional. Setiap orang yang lewat jalur ini pasti akan tertarik singgah, seperti saya dan keluarga. Kalau dirawat dan dikelola, bisa luar biasa,” komentar Heri.
Para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di sepanjang pantai itu mengakui, pendapatannya tidak pernah menurun. Malah beberapa hari terakhir mengalami peningkatan karena pantai itu makin ramai pengunjung. Tarno, salah seorang PKL, mengatakan, hari-hari biasa ia mampu mengantongi Rp 150 ribu/hari. Pendapatannya meningkat dua kali semenjak Ramadhan. “Mendekati hari raya, pengunjung akan makin ramai. Banyak pemudik yang singgah. Saat Hari Raya, malah lebih banyak lagi yang berkunjung,” kata Tarno.
Pemkab Tuban sendiri bukan tidak menyadari potensi pendapatan yang dimiliki pantai Karangsari. Sempat terbersit rencana penataan kawasan itu, terlebih saat pengurus Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio-Tjoe Ling Kiong (KSB-TLK) mengajukan permohonan pembangunan Pagoda 9 lantai-nya. Konon, Pagoda itu bakal dijadikan maskot wisata dan pihak TITD KSB-TLK-pun optimis pantai Karangsari bakal lebih hidup. Namun rencana itu tak jelas juntrungnya kini. Banyak kalangan tidak menyetujuinya. “Di satu sisi memang memberi keuntungan pada Pemkab, tapi sisi lain, resiko abrasi bakal makin meningkat. Terlebih kawasan itu menjadi tempat tambat labuh ratusan perahu nelayan,” pendapat Edy Toyibi, Direktur Lembaga Konservasi dan Perlindungan Sumberdaya Alam (LKPSDA) Cagar.
Bagian Pariwisata dan Kebudayaan Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Pemkab Tuban pun sependapat. Sunaryo, Kepala Bagian Pariwisata Disperpar mengatakan, pihaknya telah mengusulkan rencana penataan pesisir Karangsari untuk rest area. “Tidak perlu ada bangunan tambahan, panorama laut dan aktivitas nelayan sudah cukup menjadi daya tarik. Yang perlu dibangun jetty di sepanjang pantai itu, agar lebih layak dan memberi kenyamanan pengunjung. Jadi PKL tidak mengganggu arus lalu-lintas jalan protokol itu. Pengunjungpun merasa lebih nyaman,” kata Sunaryo.
Masalah kebersihan pantai, Sunaryo menyadari bukan hal yang mudah untuk diatasi. “Kami akan terus melakukan pendekatan pada masyarakat nelayan di situ, kesadaran mereka terhadap lingkungan pantai memang masih sangat rendah. Para pengunjung juga kami harap tidak memperburuk dengan membuang sampah sembarangan di pantai. Kalau perlu nanti ada Perda-nya,” kata Sunaryo.

0 Komentar:

Posting Komentar