Tampilkan postingan dengan label Penghargaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penghargaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

Tuban Raih Kembali Penghargaan P2BN Tahun 2012


Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Bupati Tuban, H. Fathul Huda kembali meraih penghargaan dari pemerintah pusat. Kali ini penghargaan yang diraih tersebut adalah Penghargaan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) Tahun 2012. Hal ini sesuai dengan undangan dari Direktorat Budidaya Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Sedianya penghargaan tersebut akan diserahkan langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Lt 11, West Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada hari Rabu tanggal 18 Juli 2012.

Di Provinsi Jawa Timur terdapat 16 Kabupaten/ Kota yang mendapat penghargaan ini termasuk Kabupaten Tuban,  Adapun pertimbangan penerimaan penghargaan ini, karena Kabupaten Tuban dinilai berhasil meningkatkan produksi beras nasional diatas 5 Persen.

Penghargaan P2BN ini menjadi motivasi tersendiri bagi Pemkab Tuban untuk terus melakukan intensifikasi bidang pertanian, misalnya melakukan pembinaan terhadap para kelompok tani,  peningkatan infrastruktur, sarana produksi dan keterampilan petani serta membantu ketersediaan pupuk.
»»  Baca Selanjutnya...

HIPPA Subur Makmur "Klotok - Plumpang" Terbaik Se-Indonesia



Kelompok petani Desa Klotok, Kec. Plumpang, Tuban nampaknya patut dibanggakan. Pasalnya berhasil mendapatkan juara 1 Lomba Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) tingkat nasional yang diselenggarakan pada tanggal 27 mei hingga 01 juni 2012 lalu, di Batam.

Kegiatan ini diikuti oleh 21 Provinsi di tanah air ini. Diantara kelompok peserta HIPPA yang berhasil lolos untuk masuk 5 besar adalah Jawa Timur yang diwakili oleh Tuban, Yogjakarta, Jawa Tengah, NTB dan Jawa Barat.

Kepala Desa Klotok, Suprayitno, Selasa (17/07/2012) mengatakan prestasi ini sangat menggembirakan karena dari seluruh provinsi yang ikut, melalui Kelompok Petani Pengguna Air desa Klotok, Tuban menjadi peserta yang terbaik.

“Kelompok HIPPA yang kami punya sangat berkualitas. Dalam lomba yang diselenggarakan di Batam kemarin, kita dituntut untuk mempresentasikan profil, tanya jawab dan sarasehan yang diwakili oleh Koordinator HIPPA kami Purwanto dan Nursalim,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, kemenangan yang diperolehnya ini disebabkan oleh beberapa hal-hal teknis yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompok lainya. Diantaranya legalitas HIPPA, AD/ART yang dijalankan dengan baik.

Yang lebih penting lagi adalah sistem pompanisasi dengan mengambil air dari Bengawan Solo sudah memiliki izin melalui Unit P2T Surabaya. selain itu, melalui empat pompa induk air disalurkan ke 22 pompa diesel untuk mengairi lahan warga.

“Dan pada saat musim hujan kita sudah menyiapkan untuk pembuangan air yang menggenangi sawah setelah hujan turun. Untuk proses pembuanganya kita sudah menyiapkan tiga sungai kecil untuk mengatasi hal tersebut,” tutur Kades lulusan Pasca Sarjana UGM tersebut.

Selain itu, Kades yang juga mantan Dosen Universitas Wangsa Manggala ini juga menambahkan, bahwa Kelompok HIPPA binaanya ini juga sering menyabet juara ada beberapa lomba lainya, baik tingkat lokal, regional sampai nasional.

Yakni mendapatkan juara 1 HIPPA di Malang, juara 1 lomba desa tingkat Kabupaten yang mendapatkan hadiah Rp. 100 juta. Lalu hampir beriringan dengan lomba di Batam, Desa Klothok juga mendapatkan tinjauan lapangan dari Dirjen Kementrian Pertanian, Dirjen Kementrian Dalam Negeri, Dirjen Kementrian PU, Dosen IPB dan perwakilan dari LSM .

Sementara itu, menurut ketua HIPPA Subur Makmur, Suprayitno Keberadaan Kelompok Petani Pengguna Air ini sangat memberikan manfaat yang sangat besar terhadap mata pencaharian masyarakat Desa Klotok. Dengan lancarnya saluran irigasi pertanian tentu akan dapat mendorong hasil panen yang melimpah

“satu hektar tanah hasilnya mencapai 10 sampai 11 ton, Jumlah areal yang kami punya mencapai 600 hektar. Jadi penghasilan total keseluruhan musim panen kemarin mencapai Rp. 1 Milyar,” tuturnya.
»»  Baca Selanjutnya...

Selasa, 03 Juli 2012

Pelajar Tuban Galang Dana Untuk KPK


Belasan pelajar SMA Tuban yang mengatasnamakan Pusat Pelajar Respek Sosial (Puspres) Tuban, menggelar aksi solidaritas, koin untuk pembangunan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (03/07/2012) pagi. Di perempatan Patung Kecamatan Kota. Dalam aksinya, selain menggelar Orasi di patung Letda Soejipto, mereka juga membawa kardus yang bertuliskan koin peduli KPK, dengan cara meminta sejumlah pengguna jalan di traffic light setempat, satu persatu pengguna jalan disuguhi kardus tersebut untuk meminta sumbangan. 


”Mari kita semua dukung KPK untuk menuntaskan pembangunan gedungnya,” teriak Hendry Kustiono presiden Puspres.


Dianggapnya DPR RI terkesan mengabaikan kepentingan besar terhadap rencana pembangunan gedung KPK, mestinya pemerintah cukup memperdulikan nasib lembaga yang besar berkontribusi terhadap penegak pemberantasan korupsi, bukan malah di musuhi, ”Pembangunan gedung KPK sudah masuk ranah APBN, bukan lagi RAPBN sehingga bendara negara atau menteri keuangan harus merealisasikan anggaran tersebut,” lanjut Hendry.

Sedangkan DPR RI wilayahnya hanya mengawasi penggunaan anggaran bukan malah melemahkan KPK maupun mendeskriditkan lembaga tersebut,  “Sekarang ini KPK kinerjanya sudah cukup baik, banyak koruptor yang sudah diberantas oleh KPK sehingga layak untuk di dukung semua lapisan masyarakat,” paparnya.

Selain menggelar aksi di perempatan patung, para pelajar ini juga meminta sumbangan ke kantor DPRD Tuban, namun tak satupun anggota DPRD Kabupaten Tuban yang memberikan sumbangan, bahkan ada salah satu anggota DPRD Tuban yang lari ketika melihat anak-anak yang masuk ke dalam kantor dengan membawa kardus untuk meminta sumbangan tersebut, akan beberapa pejabat dinas yang menyumbangkan koin untuk KPK, “Kami ini warga kecil, sehingga kami mendukung akan perubahan yang baik, kami mendukung kalian”, ungkap salah satu pejabat yang berpakaian seragam dinas harian kepada anak-anak pelajar.

Menurut mereka, koin yang terkumpul akan dikirimkan ke jakarta jika sudah memenuhi target mereka, dan rencananya aksi akan di gelar selama 3 hari berturut-turut di lokasi yang sama.
»»  Baca Selanjutnya...

Sabtu, 16 Juni 2012

Memeragakan Simulasi, Tim Penilai Lomba Poskamling Polda Jatim Terpana


seputartuban.com - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara yang Ke 66, Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengadakan Lomba Poskamling untuk setiap Polsek se-Jawa Timur, yang akan dinilai oleh Tim Penilai dari Polda Jatim.
Tim penilai dari Polda Jatim, yang dipimpin langsung oleh Ketua Tim Penilaian AKBP Toha, Kompol Warsito, dan Kompol Nurlaila, jumat (15/06/2012) siang kemarin, giliran menilai Polsek Jenu, yang sebelumnya juga sempat mendapatkan penghargaan dalam hal pelayanan terbaik dan perolehan sertifikat ISO 9001-2012.
Tingkat Polres Tuban yang sebelumnya menggelar lomba serupa, berhasil menjadi yang terbaik yakni dari Polsek Jenu. Sehingga dalam penilaian kali ini tim polda Jatim mendatangi Poskamling di Dusun Jembel, RT 01, RW 06, Desa Sugihwaras, Kecamatan jenu, Tuban. Poskamling masuk Type ukuran A, yaitu luas lahan Poskamling 6 x 6 meter.
Penilaian dalam lomba kali ini meliputi Peran serta Masyarakat dan peragaan penanggulan masalah. Serta sejumlah fasilitas ruang jaga, ruang istirahat, kelengkapan administrasi, peralatan siskamling lainya.
Peralatan Poskampling yakni alat komunikasi, alat kesehatan, pemadam kebakaran, borgol, senter, rompi, buku administrasi, alat bantu pemadam kebakaran tradisional, kentongan,  dan TV.
Atas kondisi ini serta peragaan penanggulangan masalah tim penilai dari Polda Jatim sempat memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap adanya Poskamling di wilayah Polsek Jenu ini.
Setiap Poskamling yang dinilai harus memperagakan simulasi ronda dan penanganan kejadian. Untuk Poskamling Desa Sugihwaras ini, menunjukkan beberapa simulasi, diantaranya adalah simulasi adanya kebakaran, simulasi penangkapan pelaku pencurian, simulasi penanganan korban kecelakaan, dan  simulasi bencana alam.
Dari sekian banyak simulasi yang ditampilkan oleh petugas Pos Ronda Poskamling Desa Sugihwaras, tim penilai Polda Jatim sangat antusias hingga memberikan tepuk tangan sebagai tanda apresiasi dan penghargaan saat berhasil menampilkan simulasi itu.
Saat dikonfirmasi seputartuban.com, Sabtu (16/06/2012), kapolsek Jenu AKP Murni Khamariyah mengatakan, bahwa penilaian ini sebelumnya sudah dipersiapkan untuk menyambut tim penilai dari Polda Jatim, dalam acara memeperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara Ke 66.
“kami sudah mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan penilaian Poskamling ini, sehingga apa yang nantinya akan dinilai, bisa kami tampilkan dan berikan, semoga bisa memperoleh juara,” harapnya.
Selain 3 personil tim penilai Polda jatim, turut hadir juga Kapolres Tuban AKBP  Awang Joko Rumitro, Dandim 0811 Tuban, Letkol Inf. Primadi Saiful Sulun beserta pejabat Muspika Kecamatan Jenu, yang menyaksikan penilaian lomba Poskamling itu.
Foto : Usai lomba foto bersama di Mapolsek Jenu
»»  Baca Selanjutnya...

Rabu, 13 Juni 2012

Menerima Adiwiyata Menjadi Semangat Baru Siswa


SMA Negeri 1 Tuban merupakan salah satu diantaranya dari tiga penerima penghargaan Adiwiyata Nasional 2012 dari Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Waka Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Tuban , Widi Kurniana kepada seputartuban.com, Rabu (13/06/2012) mengatakan bahwa Piagam ini didapatkan dengan komitmen bersama dari seluruh warga sekolah untuk menciptakan lingkungan yang asri dan sejuk agar suasana pembelajaran lebih efektif.
“Berbagai macam cara kami lakukan salah satu upaya adalah dengan mengadakan program Penanaman Sejuta Pohon, One Man One Tree, Pelatihan Pembuatan Komposting, Seminar , Studi Banding. Semua itu kami lakukan dengan semangat kebersamaan, kesadaran sehingga piagam ini bisa kami terima,” jelasnya.
Pasca penerimaan Adiwiyata, nampaknya menjadi semangat baru bagi para siswa dalam memperlakukan lingkunganya. Yakni para siswa ketika melihat sampah di halaman langsung dimasukan tong sampah yang telah disediakan.
“Selain itu kami juga bekerja sama dengan para pengepul untuk menciptakan sebuah program terbaru yang disebut “Bank Sampah”, dengan ini sampah-sampah yang terkumpul disetiap kelas kita tampung di Bank Sampah kemudian dijual kepada Pengepul dan hasil penjualan ini dimasukan ke rekening kelas untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan setiap kelas,” imbuh Widi.
Ketika ditanya mengenai upaya untuk mempertahankan piagam ini pada tahun-tahun mendatang, Wakasek  ini mengatakan bahwa pihak sekolah akan meningkatkan berbagai upaya dengan inovasi-inovasi baru.
“ ini merupakan tahun pertama kami mendapatkan piagam, tahun kedua kami akan meningkatkan upaya-upaya yang inovatif untuk kembali mendapatkan piagam yang serupa. Untuk itu kami mohon doanya semoga cita-cita kami bisa terwujud,” pungkasnya.
Foto : Piagam penghargaan Adiwiyata 2012
»»  Baca Selanjutnya...

Senin, 11 Juni 2012

Piala Adipura Diarak Keliling Kota Tuban


Sebagai bentuk syukur serta menyemangati seluruh masyarakat Kabupaten Tuban untuk tidak terlena dan bangga berlebihan, tetapi bagaimana upaya selanjutnya ke depan guna memprtahankan Piala Adipura yang diterima tahun ini, acara kirab tetap tetaplah perlu untuk diselenggarakan.
Tak mau kalah dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur, Kabupaten Tuban juga menggelar Kirab Piala Adipura mengelilingi Kota Tuban, Jumat (8/6/) sore.
Tak hanya Adipura, pemkab juga mengarak 8 penghargaan nasional yang tahun ini diterima. Diantaranya, Adipura, Kalpataru, Wahana Tata Nugraha, Opini Wajar Tanpa Pengecualian, dan 3 piala Adiwiyata.
“Mempertahankan lebih sulit daripada usaha untuk mendapatkan penghargaan sebuanyak ini. Karena itu, kami mengajak semua masyarakat untuk berpartisipasi mempertahankan semua prestasi ini,” ujar Bupati Tuban,  KH. Fathul Huda, saat memberangkatkan kirab.
Acara kirab keliling kota dimulai dari aloon-aloon dan kembali ke tempat semula. Disamping arak-arakan mobil hias juga dimeriahkan barisan komunitas sepeda.
»»  Baca Selanjutnya...

Tiga Sekolah di Tuban Raih Adiwiyata Nasional


Tiga  sekolah peduli lingkungan mendapat penghargaan adiwiyata nasional, dari Menteri Lingkungan Hidup. Penghargaan tersebut diterima ketiga sekolah adhiwiata yakni SMA Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 2 Tuban, dan SMP Negeri 2 Rengel, di Jakarta pada Rabu (6/6) kemarin.
“Dengan capaian raihan penghargaan tersebut, tidak lepas dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Diantaranya, pengegmbangan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan, pengembangan kurikulum berbasis lingkungan, pengembangan kegiatan berbasis partisipasif, serta pengelolaan dan pengembangan sarana prasarana,” kata Kepala Bidang sma/smk Disdikpora Tuban, AnisAffandi, di kantornya, Kamis (7/6).
Anis Affandi yang juga kepala sekolah sman 1 ini mengatakan, untuk meraih penghargaan Adiwiyata ini, sekolahnya sudah mempersiapkan sejak tahun 2000 lalu.
“Setiap tahun ajaran baru kita selalu mewajibkan setiap siswa menanam satu pohon, selain itu kita juga selalu melakukan pembenahan-pembenahan taman sekolah. Ini adalah sebagai upaya kami melestarikan lingkungan hidup,” ujar Affandi.
Menurut Affandi, setelah sekolahnya meraih penghargaan tugas yang paling berat adalah mempertahankan situasi adiwiyata di sekolah tersebut.Karenanya, setelah ini SMAN 1 Tuban memerlukan visi sesuai dengan sekolah adiwiyata.
Ditemui terpisah, Kepala Sekolah SMAN 2 Tuban, Mambaul Mushofa, yang juga kepala sekolah peraih adiwiata nasional mengatakan, menjaga lingkungan hidup itu sangat ditekankan kepada semua siswanya Sebelumnya, diraih penghargaan sama di tingkat kabupaten dan provinsi pada tahun 2008 dan 2010.
Setelah SMAN 2 Tuban mendapatkan penghargaan Adiwiyata Nasional, menurut Mustofa, sekolah wajib membuat pembelajaran yang monolitik atau pendidikan lingkungan hidup (PLH) dan memasukannya ke semua mata pelajaran, sehingga bisa terhubung dengan pelajaran lingkungan hidup.
»»  Baca Selanjutnya...

Adipura : Kota Tuban Bersih Partisipasi Bersama

Pengelolaan dan pembangunan lingkungan hidup di Indonesia relatif belum lama dan baru dirintis menjelang Pelita III. Namun demikian, dalam waktu yang pendek itu Indonesia telah banyak berbuat untuk mulai mengelola lingkungan hidupnya.

Hasil utama pengembangan lingkungan hidup ini nampak pada munculnya kesadaran dan kepedulian di kalangan masyarakat. Antara lain nampak dalam peningkatan upaya swadaya masyarakat seperti tercermin dalam kegiatan nyata dan keterlibatan masyarakat umum dalam memecahkan masalah pencemaran di daerah.
Padahal, 20 tahun sebelumnya, istilah lingkungan hidup itu sendiri belum begitu dikenal. Konsep dan kebijakan lingkungan hidup selama Pembangunan Jangka Panjang (PJP) Pertama mengalami perkembangan yang sangat berarti.
Selama Pelita III bidang lingkungan hidup ditangani oleh Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Men-PPLH) dengan prioritas pada peletakan dasar-dasar kebijaksanaan “membangun tanpa merusak”, dengan tujuan agar lingkungan dan pembangunan tidak saling dipertentangkan.
Pada Pelita IV, bidang lingkungan hidup berada di bawah Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Men-KLH), dengan prioritas pada keserasian antara kependudukan dan lingkungan hidup. Pada Pelita V kebijaksanaan lingkungan hidup sebelumnya disempurnakan dengan mempertimbangkan keterkaitan tiga unsur, antara kependudukan, lingkungan hidup dan pembangunan guna mewujudkan konsep pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan hanya terlanjutkan dari generasi ke generasi apabila kebijaksanaan dalam menangani tiga bidang tersebut selalu dilakukan secara serasi menuju satu tujuan. Bila lingkungan dan sumber daya alam tidak mendukung penduduk dan menunjang sumber daya manusia atau sebaliknya, maka pembangunan mungkin saja dapat berjalan, namun dengan risiko timbulnya ancaman pada kualitas dan daya dukung lingkungan.
Kebijaksanaan dasar yang bertumpu pada pembangunan berkelanjutan ini akan tetap menjadi pegangan dalam pengelolaan lingkungan hidup pada Pelita VI dan pelita-pelita selanjutnya. Pada pelita VI, bidang lingkungan hidup secara kelembagaan terpisah dari bidang kependudukan dan berada di bawah Menteri Negara Lingkungan Hidup (Men-LH). Lingkungan hidup dirasakan perlu ditangani secara lebih fokus sehubungan dengan semakin luas, dalam dan kompleksnya tantangan pada era industrialisasi dan era informasi dalam PJP Kedua (yang dimulai pada Pelita VI).
Lintas sejarah perkembangan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia diuraikan menjadi tiga babak, yakni masa tumbuhnya Arus Global 1972, munculnya Komitmen Internasional, dan Komitmen Nasional dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia, serta Pasca Reformasi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 1995 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kebersihan Kota Dan Pemberian Penghargaan Adipura Dasar Pertimbangan:
1. bahwa sampah yang dihasilkan dari aktivitas penduduk di perkotaan apabila tidak dikelola dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang pada gilirannya akan merugikan kesehatan manusia;
2. bahwa untuk lebih meningkatkan upaya pengelolaan kebersihan kota pemerintah memberikan penghargaan Adipura bagi kota-kota bersih, sehingga diharapkan kota tersebut menjadi kota yang bersih dan nyaman bagi masyarakatnya;
3. bahwa pemberian penghargaan Adipura sejak pelaksanaannya pertama kali pada tahun 1986 telah menampakkan hasil menggembirakan, sehingga perlu pembakuan pedoman pelaksanaan kebersihan kota dan pemberian penghargaan Adipura.
»»  Baca Selanjutnya...

Kabupaten Tuban Raih Lima Penghargaan Nasional

Tahun ini Kabupaten Tuban meraih lima penghargaan tingkat nasional, yang salah satunya adalah penghargaan Adipura, yang pialanya telah diterima Bupati H. Fathul Huda dari Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/6).

Lima penghargaan tersebut dalam kategori WTP (Wajar Tanpa pengecualian) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), WTN (Wahana Tata Nugraha) sebagai penataan lalu lintas yang terbaik, Adipura (sebagai kebersihan dan keindahan kota), Adiwiyata sebagai sekolah yang peduli lingkungan hijau, dan penghargaan Kesejahteraan Kerja Karyawan (K3) di tempat-tempat industri.

“Semua penghargaan yang diterima adalah berkat kerja keras kita semua. Tanpa dukungan dan kerjasamanya masyarakat sulit untuk mewujudkan penghargaan itu. Dan semoga ini menjadi motivasi ke depan menjadi lebih baik” kata Bupati Tuban, H. Fatkhul Huda, ketika memberikan sambutan dalam pengajian haul Mbah Gagar Manik Tundung Musuh di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Rabu (06/06) malam.
Bupati H. Fathul Huda mengajak kepada semua masyarakat untuk mendukung visi-misinya dalam mewujudkan Kota Tuban sebagai kota yang religius dan merubah stigma Kota Tuak menjadi Kota Wali.
»»  Baca Selanjutnya...

Sabtu, 09 Juni 2012

Pemkab Kirab Penghargaan Keliling Kota


Setelah menerima sejumlah penghargaan dari Presiden RI, Pemkab Tuban, Jum’at (08/06/2012) Pemkab Tuban menggelar kirab penghargaan keliling kota.
Kegiatan yang diikuti hampir seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) nampak mengikuti kegiatan ini termasuk 3 sekolah yang menerima penghargaan Adiwiyata.
Penghargaan Adipura, Kalpataru, Wahana Tata Nugraha, Opini Wajar Tanpa Pengecualian, dan 3 piala Adiwiyata. Nampak diarak keliling kita diiringi mobil hias dan sejumlah komunitas yang ada di Kabupaten Tuban.
Adapun bebarapa Piala yang Dikirab adalah Piala adipura 2011-2012 dari Presiden RI, Opini Wajar Tanpa Pengecualian ( WTP ) dari BPK,  Wahana Tata Nugraha (WTN ) Kategori Bidang Lalu lintas Darat Th. 2011 Dari Menteri Pelayanan RI,  Adiwiyata Nasional untuk 3 sekolah yaitu SMAN 1 Tuban,  SMAN 2 Tuban, SMPN 2 Rengel, Kalpataru Perintis Lingkungan, Wahana Tata Nugraha ( WTN ).
Dalam sambutan pemberangkatan peserta kirab,  Bupati Tuban, Fatul Huda menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk menjadikan suatu motifasi dan kebanggaan masyarakat Tuban. “dengan mendapat Penghargaan ini , kita jangan sampai lengah dengan penghargaan ini, kita lebih tingkatkan lagi untuk mencapai masyarakat yang lebih maju dalam segala bidang,” ungkapnya.
Foto : Salah satu mobil hias yang mengikuti kirab
»»  Baca Selanjutnya...

Kamis, 23 Februari 2012

Sepuluh Provinsi Dapat Penghargaan


Sepuluh Provinsi, diantaranya Riau, Babel, DKI Jakarta, Jawa Tengah, yogjakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur mendapatkan penghargaan dari Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. Kesepuluh provinsi ini dinilai telah bekerja baik dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS.
Menteri Dalam Negeri selaku Wakil Ketua Komisi Penanggulangan Aids (KPA), Gamawan Fauzi menghimbau kepada para gubernur untuk memberikan perhatian khusus terhadap penanggulangan HIV dan AIDS yang merupakan salah satu bagian dari pencapaian tujuan Pembangunan Millenium ( MDG / Millenium Development Goal) tujuan 6.
          Hal tersebut dikatakan Mendagri ketika memimpin Rapat Kerja Gubernur  dalam membahas Percepatan Pencapaian MDG untuk HIV dan AIDS, di Jakarta. Rapat Kerja tersebut dihadiri oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat HR. Agung Laksono selaku Ketua KPA Nasional dan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH.
          Selain melakukan Rapat Kerja Gubernur, Mendagri juga memberikan penghargaan bagi provinsi maupun Kabupaten/Kota yang telah bekerja baik dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Adapun provinsi yang mendapatkan penghargaan diantaranya Riau, Babel, DKI Jakarta, Jawa Tengah, yogjakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur.
          Menurut Menteri, di Indonesia hampir tidak ada provinsi yang dinyatakan bebas dari HIV DAN AIDS, bahkan diperkirakan saat ini HIV dan AIDS sudah ditemukan lebih dari separuh jumlah Kabupaten/Kota di Indonesia. Berdasarkan laporan triwulan Menkes hingga Desember 2010, secara komulatif tercatat 24.131 kasus AIDS.
          Jika dilihat dari cara penularannya, mayoritas penularan melalui heteroseksual (52,7%), disusul pengguna narkoba suntik (38,3%), dan lelaki seks dengan lelaki (3,0%). Sebagian besar kasus AIDS tersebut didapatkan pada kelompokusia 20-29 tahun yaitu 47,4% dan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 31,3% dan kelompok umur 40-49 tahun sebesar 9,4%.
          “Dari 5 juta lelaki yang ‘berbelanja’ seks sedikit sekali yang menggunakan kondom. Dari catatan data, pekerja seks yang terkena AIDS hanya 17%.Artinya, sekitar 80% justru bukan pekerja seks wanita, bias saja ibu yang baik kemudian terkena AIDS,” jelas Gamawan.         
          “Ini sesuatu yang mengerikan. Karenanya masalah tesebut harus dibahas secara menyeluruh dan berani mengatakan simbol simbol persoalannya atau sesungguhnya,” imbuh Menteri.
          Diakuinya, memang agak sulit untuk memberikan pemahaman kepada mereka yang rentan terhadap HIV dan AIDS. Apalagi lokalisasi agak sulit diberantas. Untuk itulah diperlukan keterbukaan untuk mengatakan strategi apa yang harus dilakukan, meski harus pahit dan tidak popular dan banyak tantangan namun selama tujuannya untuk kepentingan orang banyak, Gamawan yakin pasti akan berhasil.
          Menurut Gamawan, sejak otonomi daerah tahun 1999 yang efektif berlaku pada awal tahun 2000, banyak program yang menjadi program di daerah. Namun persoalannya, tidak semua berjalan dengan baik. Salah satunya penanggulangan HIV dan AIDS. Sebaliknya, ada beberapa daerahyang sudah memberikan perhatian khusus menyediakan tim perawatan dan pengecekan, sehingga yang sudah tertular HIV tidak sampai tertular AIDS.
          Bila saat ini ada sekitar 55 ribu terkena HIV dan 24 ribu tertular AIDS, ke depanya penyebarannya bisa dihambat agar penderita HIV tidak lebih besar dari AIDS. Untuk itu, pengetahuan tentang HIV AIDS harus terus menerus ditingkatkan di beberapa daerah di Indonesia sehingga akan menjadi sebuah program yang serius. “Karena angka-angka tersebut sudah menakutkan kita semua,”kata Mendagri.
          Ia pun membayangkan bila yang ‘berbelanja’ seks bertambah menjadi 10 juta, lalu mereka banyak ‘berbelanja’ seks, bisa dibayangkan berapa banyak penduduk Indonesia yang tertular HIV AIDS. Setiap daerah, lanjut dia mempunyai cara tersendiri untuk mencegah agar HIV AIDS tidak meluas, misalnya melalui pemuka agama, tokoh-tokoh adat, jalurpendidikan ataupun kesehatan. Bila dihindari bersama, Mendagri yakin angka-angka tersebut akan berkurang, “Gubernur, Bupati dan Walikota yang paling tahu kekuatan masing-masingdaerah untuk menghambat ini,”jelas Gamawan.

Berkembang Pesat

            Epidemi HIV berkembang sangat pesat di seluruh dunia  termasuk Indonesia. Kasus ini telah mengakibatkan kematian 25 juta orang dan saat ini telah terdapat lebih dari 33 juta orang hidup dengan HIV (sumber SRAN 2010-2014), Setiap hari secara estimasi di dunia terdapat 7.400 kasus baru HIV atau 5 orang permenit dan 96% diantaranya merupakan populasi di negara berkembang.
          Melalui Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2006 mengenai peran dan Fungsi KPA Nasional, telah dimulai intensifikasi penanggulangan HIV dan AIDS Indonesia. Dengan dikeluarkannya Rencana Aksi Nasional  (RAN) 2007-2010 yang kemudian dilanjutkan dengan Strategi dan Rencana Aksi Nasional  (SRAN) 2010-2014, KPAN telah berupaya ilai upaya pencapaian universal akses ditahun 2015.
          Sementara itu Ketua KPA Nasional, Agung Laksono mengatakan, mengacu pada SRAN 2010-2014, sejak Juli 2010, upaya penanggulangan AIDS yang komprehensif, yang dikenal sebagai Total Football telah dilaksanakan di 33 provinsi dan 137 Kabupaten/Kota. Namun sebagian besar yaitu sebanyak 74% pembiayaan untuk penanggulangan AIDS masih bersumber dari bantuan luar negeri, terutama Global Fund, AUSAID dan USAID, “Namun harus kita sadari bantuan ini bersifat sementara,” kata Agung. Ia menambahkan, dengan adanya pengarustamaan penanggulangan AIDS dalam RPJMN dan RPJMD kemudian dengan meningkatnya APBN dan APBD maka ketergantungan kepada bantuan luar negeri bisa makin berkurang.
          Menurut  Agung, suksesnya upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah 4 tahun ke depan sangat tergantung pada komitmen dan kepemimpinan para Gubernur dan jajarannya untuk bersama masyarakat sipil berupaya sekuat tenaga mengalahkan virus HIV. 
»»  Baca Selanjutnya...