Selasa, 17 Juli 2012

Efek Menunda Imunisasi bagi Anak


Jadwal imunisasi yang dibuat oleh dokter sebenarnya dirancang berdasarkan efektivitas kerja vaksin dan reaksi kekebalan tubuh anak. Karena itulah pemberian imunisasi sesuai jadwal akan menghasilkan hasil yang optimal.

Tetapi kebanyakan orangtua sengaja menunda jadwal imunisasi karena kondisi anaknya dirasa sedang tidak fit. Adakah efek penundaan tersebut terhadap kekebalan tubuh anak?

Menurut dr.Hanifah Oswari, spesialis anak dari FKUI/RSCM Jakarta, pada dasarnya tidak ada kata terlambat untuk memberikan imunisasi pada anak. "Terlambat boleh saja selama si anak belum kena penyakitnya," katanya.

Imunisasi merupakan usaha tubuh untuk membentuk kekebalan terhadap suatu penyakit. Jika jeda atau interval dari pemberian satu vaksin ke vaksin ulangannya cukup jauh, maka kemampuan tubuh untuk mengenali suatu virus atau bakteri menjadi lebih lama.

Hanifah menjelaskan, sebenarnya pilek, demam ringan, atau batuk bukanlah kontraindikasi terhadap imunisasi sehingga imunisasi tidak perlu ditunda. "Yang termasuk kontraindikasi adalah adanya gangguan kekebalan tubuh seperti anak yang menderita kanker atau HIV/AIDS," tandasnya.

Namun apabila orangtua merasa cemas jika anaknya yang sedang kurang fit diimunisasi, boleh saja imunisasi ditunda beberapa hari.

Mengenai adanya efek samping setelah anak diimunisasi biasanya hal itu tergantung pada kekebalan tubuh. Efek samping yang sering ditemui pasca imunisasi antara lain bengkak dan kemerahan di sekitar lokasi suntikan, demam ringan, atau anak menjadi agak rewel.

Namun para ibu diharapkan tak perlu takut pada efek samping pasca imunisasi yang biasanya ringan. Yang perlu ditakutkan adalah penyakit yang mungkin timbul jika anak tidak dilindungi imunisasi.
»»  Baca Selanjutnya...

Kucing Persia Jadi Primadona


Kucing persia medium kini menjadi tren binatang peliharaan di Kota Bojonegoro. Salah satu toko binatang peliharaan di Kota Ledre, Ann Pet Shop kini menjadi tujuan utama para pecinta kucing, baik persia maupun anggora.

Pemilik toko di Jalan Panglima Polim itu, Ana Zulaikha mengatakan, dalam satu minggu ada dua sampai tiga pembeli kucing peliharaan. "Saat ini, kucing persia dan anggora sedang menjadi tren mengikuti daerah lain yang sudah lebih dulu," terang Ana.

Adapun harga untuk kucing persia sendiri saat ini berkisar antara Rp700.000 hingga Rp1,3 juta. Sedangkan untuk kucing anggora harganya lebih murah mulai dari Rp400.000 sampai Rp500.000.

Ana menambahkan untuk perawatan kucing juga relatif mudah, karena persia dan anggora tergolong kucing rumahan yang jarang di luar, sehingga bulu-bulunya tidak mudah rusak dan rontok.

Selain kucing, Ann Pet Shop juga menyediakan binatang peliharaan lain, seperti landak, hamster dan hamtaro. Setiap harinya ada dua pasang hamster yang terjual dengan harga Rp1.500 sampai Rp100.000 per ekor.

Di samping menjual binatang peliharaan, toko yang berdiri sejak empat tahun lalu ini juga menerima jasa klinik, memandikan dan penitipan binatang peliharaan.
»»  Baca Selanjutnya...

Polisi Jatim Bikin Desa Online Masuk MURI


Program pelayanan “Polda Jatim Satu Genggaman” yang diresmikan oleh Kepala Kepolisian RI, Jenderal Timur Pradopo, meraih penghargaan dan tercatat dalam Museum Rekor Indonedia (MURI).
Kapolri meresmikan program ini bersama Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI H. Murdjito, dan Gubernur Jatim Soekarwo di Markas Polda Jatim, Senin, 16 Juli 2012 .
“Polda Jatim mendapat rekor MURI karena telah memprakarsai program satu desa satu polisi ini,” kata Perwakilan dari MURI, Paulus Panka. Ia berharap inovasi ini akan digunakan oleh Polda-Polda lainnya.
Program ini adalah sistem teknologi yang menyajikan pemetaan daerah yang memiliki kerawanan serta potensi geografis, sosial, ideologi, politik, budaya, ekonomi, jumlah penduduk dan kontak alamat tokoh-tokoh masyarakat di setiap desa di Jawa Timur.
Sistem ini dipimpin polisi Bintara Pembina Kamtibmas (Babin Kamtibmas) yang harus memperbarui informasi atau kejadian yang disajikan secara online di masing-masing desa. Satu polisi bertanggung jawab terhadap satu desa. Di Jawa Timur ada sebanyak 8.523 desa yang tersebar di 38 kota/Kabupaten.
“Pelayanan dan tindakan akan lebih cepat karena semua kejadian tersaji secara online dan lengkap. Tujuannya agar Jawa Timur makin kondusif,” kata Kepala Polda Jawa Timur, Inspektur Jenderal Hadiatmoko.
Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar mengatakan program ini adalah salah satu sistem reformasi birokrasi dalam aparatur penegakan hukum. Deteksi ini, kata dia, bisa dilakukan dengan cepat dan tindakannya dalam satu komando.
Gubernur Jatim, Soekarwo, mengatakan dengan semua data tersaji secara online, maka akan mengurangi pertemuan secara langsung. Pertemuan langsung, kata dia, secara otomatis akan mengurangi pungutan liar. “Dan yang paling penting tolak ukurnya efektivitas adalah tingkat kepuasan masyarakat,” katanya.
Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo mengatakan institusi yang dipimpinnya terus mempunyai komitmen untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat yang murah, cepat, dan bisa dipertanggungjawabkan secara transparan (akuntabilitas).
Ia mengingatkan program ini harus terus dikontrol terus menerus sehingga data yang tersaji selalu update. Kontrol ini, kata dia, harus dilakukan komandannya dengan mau turun ke lapangan. “Kalau tidak dikontrol komandannya, maka polisi hanya tidur saja,” ujar dia.
Timur mengatakan program ini harus bersinergis dengan kepentingan pemerintah daerah. Karena itu harus ada dukungan anggaran dari daerah. “Jangan sampai minta-minta dan membebani masyarakat,” katanya
»»  Baca Selanjutnya...

Batik Sumurgung Berpotensi Rebut Pasar Batik Gedog

Persaingan pasar batik tidak hanya terjadi antara antara batik Gedog Tuban dengan batik Pekalongan dan Solo. Di tingkat lokal-pun, batik yang telah ditetapkan sebagai produk unggulan Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Tuban ini, mendapat pesaing yang lumayan berat. Batik Sumurgung atau lebih dikenal dengan batik Bongkol karena sentra kerajinan ini ada di wilayah Dusun Bongkol, Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban Kota, perlahan namun pasti menggusur dominasi batik Gedog Kerek.

Darsono (43), salah seorang pengusaha dan perajin batik Bongkol, mengatakan, jumlah pesanan batik Bongkol terus meningkat setahun terakhir. Dalam sebulan saja, kata Darsono, 7.500 lembar batik produksinya mampu terserap pasar. Saat ini memang baru empat pengusaha batik yang memproduksi batik Bongkol. Itu pun baru Darsono yang total memproduksi batik Bongkol,sedang tiga pengusaha lainnya masih sesekali memproduksi batik Gedog. Namun melihat trend batik Bongkol yang terus naik itu, Darsono optimis dua-tiga tahun ke depan para pembatik di tempat itu akan kembali beralih ke batik Bongkol dan meninggalkan batik Gedog sama sekali.

“Tanda-tanda ke arah itu sudah ada. Dulu pembatik menggarap gedog dan meninggalkan batik aseli sini, karena pasar tahunya batik Tuban ya gedog itu. Lha yang gencar dipromosikan kan batik Gedog, jadi batik lainnya seperti batik Bongkol ini tenggelam. Tapi saya optimis keadaan akan berbalik. Batik Bongkol ini akan mengambil alih popularitas Batik Gedog,” kata Darsono saat menerima sosialnews.com di rumah yang sekaligus tempat produksinya, Dusun Bongkol, Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban Kota, Senin (16/7).

Konsumen batik, lanjut Darsono, pelahan akan berbondong-bondong berpindah ke Batik Bongkol lantaran dari beberapa aspek batik ini lebih mampu diterima pasar ketimbang batik Gedok Kerek. Batik Bongkol hanya dibandrol Rp 25-30 ribu/lembar, sementara batik Gedog Kerek masih berkisar Rp 30-150 ribu/lembarnya. Keunggulan lainnya, batik Bongkol ini tidak membutuhkan kain khusus. Semua jenis kain pabrikan bisa menjadi bahan batik Bongkol. Ini jelas memungkinkan batik Bongkol diproduksi dalam jumlah lebih besar mengingat kemudahan bahan bakunya, sehingga permintaan pasar berapa-pun akan mampu terlayani. Kemampuan ini tidak dimiliki batik Gedog Kerek lantaran bahan yang dipakai adalah kain tenun gedog yang tidak bisa diproduksi massal dalam waktu singkat.

“Dari segi kualitas kain, batik Gedog lebih unggul. Tetapi pasar menghendaki harga yang lebih terjangkau. Toh kualitas batik Bongkol ini tak beda jauh dengan batik Gedog, karena sama-sama dikerjakan secara tradisional,” kata Darsono.

Untuk pasar lokal sendiri, sambung Darsono, memang belum seberapa besar share yang didapat. Konsumen lokal bahkan masih lebih mengenal batik Gedog ketimbang batik Bongkol. Tapi melihat antusiasme pasar non lokal yang demikian tinggi terhadap batik ini, Darsono yakin dalam waktu yang tidak lama batik Bongkol akan mampu merajai pasaran lokal. Bukan saja batik Gedog yang berpeluang tergeser, tetapi batik produk para perajin Solo dan Pekalongan yang selama ini masih menjadi penguasa pasar, juga bakal mampu didesaknya. Terlebih lagi, motif batik Bongkol ini lebih variatif ketimbang batik Gedog Kerek yang terlihat monoton.

Tetapi sayangnya, potensi besar ini belum mendapat respon positif dari Pemerintah setempat. Pemkab Tuban sendiri masih terpaku pada batik Gedog sebagai produk kerajinan unggulan Bumi Ronggolawe ini. Selama ini, kata Darsono, para perajin batik Bongkol berusaha sendiri mengeksiskan batik warisan asli leluhur masyarakat setempat itu. Kepala Bagian Industri Dinas Perekonomian dan Pariwisata, Heru Purnomo, mengakui pihaknya belum sempat masuk ke wilayah batik Bongkol tersebut.

Desa Sumurgung, tempat batik Bongkol itu diproduksi, memang telah ditetapkan masuk kawasan Kampung Batik. Tetapi selama ini batik yang diproduksi para perajin umumnya di kawasan ini tetap batik Gedog, sementara batik Bongkol terkesan tidak terurus. Perajin-perajinnya pun berbondong-bondong menjadi “pekerja” pengusaha batik Gedog. Bahkan tidak sedikit yang hanya mengerjakan finishingnya dengan upah Rp 750/lembar.


“Sehari 15 lembar batik yang bisa saya kerjakan. Ya lumayanlah. Kalau mbatik sendiri nggak ada modal. Apalagi semuanya sekarang memilih batik Gedog,” kata Warsilah, salah seorang perajin.

Warsilah sendiri mengakui order finishing batik Gedog mulai mengalami penurunan lantaran menurunnya permintaan pasar. Warsilah tidak tahu betul apa sebabnya. Namun menurut Heru Purnomo, penurunan pasar batik Gedog itu lantaran rendahnya daya saing batik Gedog. “Batik Gedog tidak cukup memiliki daya saing pasar, karena harganya masih terlalu tinggi menurut ukuran pasar saat ini. Kami upayakan ada pembaharuan tehnik produksi sehingga batik Gedog ini bisa kembali merajai pasar,” kata Heru Purnomo.

Disinggung tentang batik Bongkol yang mulai menggusur batik Gedog, Heru Purnomo mengatakan, pihaknya tidak bisa melakukan intervensi terlalu jauh karena semua tergantung kecenderungan pasar. Disperpar sendiri, kata Heru Purnomo, sejauh ini hanya bisa memberi stimulus agar usaha-usaha seperti itu mampu berkembang dan eksis di pasaran. Ia menampik jika pihaknya “menganak-emaskan” batik Gedog, sehingga batik-batik lain yang ada di Kabupaten Tuban ini mati suri.

Catatan Heru Purnomo sendiri, saat ini tercatat 674 perajin batik yang tersebar di Desa Karang dan Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding, Desa Gaji, Desa Margorejo dan Karanglo Kecamatan Kerek, Desa Gesikharjo Kecamatan Palang, dan Desa Sumurgung Kecamatan Tuban Kota. Sayangnya, dari jumlah itu hanya empat perajin batik yang telah memenuhi persyaratan, yakni memiliki Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan persyaratan administrasi lainnya. “Keempatnya perajin batik Gedog. Kami berharap para perajin batik lainnya, seperti batik Bongkol itu, juga mengurus persyaratan administratif seperti itu agar kami bisa melakukan pembinaan dengan baik,” pesan Heru Purnomo.

»»  Baca Selanjutnya...

Pasar Jajan Pemuda Berpotensi Sumbang PAD

Meski telah berlangsung puluhan tahun, Pasar Jajan Jl. Pemuda belum dilirik sebagai obyek Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tak ada retribusi yang dipungut dari para pedagang jajanan yang jumlahnya mencapai 60-an orang itu. Masruroh, salah seorang pedagang jajanan di tempat itu mengatakan, sejak ia berdagang di situ 18 tahun lalu, belum pernah sekalipun mengeluarkan duit untuk membayar retribusi. “Nggak pernah ada karcis. Parkirnya juga nggak ada yang bayar. Gratis semua,” kata Masruroh, Minggu (15/7) subuh kemarin.

Menurut Masruroh, Pasar Jajan tersebut bukanlah pasar resmi, tetapi lebih terkesan sebagai pasar dadakan. Masruroh sendiri mengaku kurang tahu siapa yang mengawali jualan di lokasi itu. Waktu ibu empat anak warga Kecamatan Merakurak ini pertama kali jualan, pasar jajan itu telah ramai pedagang. “Memang lebih ramai sekarang. Tapi dulu sudah banyak yang jualan waktu saya ke sini,” kata Masruroh.

Sejak pukul 04.00 para pedagang jajan mulai menggelar dagangannya di tempat itu. Puncak keramaian terjadi antara pukul 04.30 – 05.30. Pada jam-jam itu transaksi yang berlangsung bisa sampai Rp 10 juta. Pasar jajan itu memang lebih digunakan sebagai area “kulakan” para penjual jajanan. Ada lebih dari 100-an penjual jajanan, yang setiap pagi melakukan transaski di pasar kaget Jl. Pemuda ini. Tapi bagi yang membeli dalam jumlah kecil pun, para pedagang tetap melayaninya.

Omzet yang diperoleh para pedagang jajanan itu memang tidak seberapa. Masruroh mengaku, omzet maksimal yang bisa dia kumpulkan hanya mencapai Rp 200 ribu. “Rata-rata tiap harinya ya dapat Rp 80-100 ribuan kotor. Bersihnya ya cuma Rp 25 ribu,” kata Masruroh.

Lepas pukul 06.30, pasar jajan ini telah sepi. Jika jajanan dagangannya masih tersisa, para pedagang membawanya ke Pasar Baru Tuban atau dijajakan keliling dari kampung ke kampung. Masruroh mengaku sedikitnya Rp 500 ribu duit yang dibutuhkan untuk bisa mendapat aneka rupa jajanan yang bakal dijualnya di pasar jajan itu. “Kalau nggak habis ya nggak dapat untung. Semua jajanan yang dijual di sini nggak ada yang pakai pengawet,” kata Masruroh.

Kepala Bagian Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, Imron Achmadi, membenarkan bila pihaknya tidak pernah mengenakan pungutan apapun terhadap pedagang Pasar Jajan tersebut. Retribusi, kata Imron Achmadi, hanya dikenakan pada pasar yang dikelola Pemkab. Sementara pasar-pasar kaget seperti pasar jajan di Jl Pemuda ini di luar tanggung jawab Pemkab.

Imron Achmadi mengakui potensi pasar jajan itu lumayan besar bila dikelola dengan baik, tidak dibiarkan berjalan apa adanya seperti selama ini. “Tapi mungkin lebih tepat dikelola bagian pariwisata. Potensinya lebih besar ke arah pariwisata karena di pasar jajan itu aneka jajanan tradisional bisa ditemukan,” kata Imron Achmadi.

Pandangan serupa disampaikan Solikin, warga setempat. Menurutnya, pasar jajan itu akan lebih bagus bila pihak Pemkab ikut campur tangan. Solikin khawatir, bila dibiarkan tanpa pengelolaan dari pihak-pihak berwenangan, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan pasar jajan itu untuk kepentingannya pribadi. “Selama ini memang belum tedengar ada pihak-pihak yang melakukan pungutan pada pedagang. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada, karena pasar jajan ini makin ramai. Pedagangnya makin banyak, dan yang beli pun sekarang tidak hanya para penjual jajan. Lihat kalau hari minggu, warga yang jalan-jalan pagi mesti mampir ke pasar jajanan. Ini potensial banget buat dikembangkan lebih baik lagi, menjadi wisata kuliner misalnya,” komentar Solikin.
»»  Baca Selanjutnya...