Kamis, 21 Maret 2013

Panen Raya GP3K Kelompok Tani "Nguruan Makmur"


Pada hari Selasa tanggal 19 Maret 2013 Kelompok Tani "Nguruan Makmur" sukses menyelenggarakan hajatan Panen Raya Demplot GP3K PT. Petrokimia Gresik yang dihadiri Wakil Bupati Tuban Ir. H. Noor Nahar Husein, M.Si dan dari Dirut PT. Petrokimia Gresik, Kepala Dinas Pertanian Tuban, Kepala BP2KP Kabupaten Tuban, Muspika, serta perwakilan dari seluruh kelompok tani di wilayah kecamatan Soko.

Wabup, GP3K dan Kelompok Tani Panen Raya
di Demplot GP3K
Dalam sambutannya, Syaiful Arif selaku ketua panitia dan wakil dari Kelompok Tani "Nguruan Makmur" mengatakan bahwa acara tersebut diselenggarakan sebagai rasa syukur kelompok tani karena telah berhasil meningkatkan panen padi dari rata-rata 7 ton/ha menjadi 8 ton/ha, bahkan untuk hasil ubinan yang dilakukan oleh Kepala UPTB BPKP Soko beserta PPL mencapai 12 ton/ha atau sekitar 10 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP),

Keberhasilan Kelompok Tani ini tidak lepas dari kawalan teknologi dari GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi) yang ditugaskan oleh PT. Petrokimia Gresik untuk mendampingi kelompok tani bekerja sama dengan PPL wilayah setempat. Para petani binaan GP3K telah mendapat penyuluhan rutin, tidak hanya teori tetapi juga diterapkan di lapangan mulai dari tata cara pengolahan tanah dengan benar, pemanfaatan air dengan baik, pemupukan berimbang 5:3:2, penggunaan benih berlabel, dan jarak tanam jajar legowo, sehingga tujuan GP3K untuk meningkatkan hasil panen padi dan mensejahterakan petani sekaligus mendukung program pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dapat tercapai.

"Dari pengalaman kelompok tani 'NGURUAN MAKMUR' ini dapat kita ambil contoh dan kesimpulan bahwa dengan adanya Program GP3K sangat membantu meningkatkan hasil panen padi dan mensejahterakan petani, serta Program ini mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional. Saran dan harapan kami ke depan semoga program ini terus berjalan, dan khusus untuk wilayah kecamatan Soko yang terdiri dari 23 desa, kami nilai untuk petugas kawalan GP3K yang tadinya hanya 6 orang perlu adanya penambahan personil untuk memperluas jangkauan kawalan, ujar Syaiful Arif.

Melalui kesempatan ini kelompok tani "Nguruan Makmur" mewakili suara para petani di Desa Nguruan menyampaikan keluh kesahnya kepada Wakil BupatI Tuban selaku pihak Pemkab untuk memerintahkan kepada dinas atau instansi terkait agar dibuatkan sarana irigasi yang memadai dari hulu ke hilir supaya pada musim tanam kedua debit air yang sebenarnya mencukupi tidak habis dalam perjalanannya menuju ke hilir.
»»  Baca Selanjutnya...

Selasa, 05 Februari 2013

MCL Sepakati Tuntutan Aliansi 6 Desa

Gelombang protes aliansi 6 desa diwilayah Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban mendapatkan tanggapan dari Mobil Cepu Ltd. Pertemuan yang digelar Jum’at (25/1/2013) malam menyetujui tuntutan yang sudah disampaikan sebelumnya. Saat dalam dengar pendapat (hearing) di Balai Desa Mentoro, kecamatan setempat.

Aliansi 6 desa merupakan gabungan perangkat desa dan Kades dari Desa Mentoro, Desa Sumurcinde, Desa Jegulo, Desa Nguruhan, Desa Bangunrejo dan Desa Menilo, Kecamatan Soko. Dan tiga tuntutanya dipenuhi dalam pertemuan terbatas disalah tempat dikawasan Kecamatan Soko kemarin.

Koordinator Aksi, Wakhid Hasyim, Sabtu (26/1/2013) mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tindak lanjut dari hearing tersebut antara perwakilan aliansi 6 desa dan perwakilan PT Mobile Cepu Ltd.

Dan hasilnya pihak 6 desa yang dilalui proyek pipanisasi MCL. Dengan catatan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutan (SPPT) lahan pipanisasi akan dipecah selama 1 bulan. Sedangkan soal permintaan tanah uruk untuk perbaikan tanggul jebol akibat kesalahan teknis IKPT dalam membuat jembatan. Dan akan diberikan dalam waktu 1 minggu mendatang.

Dan MCL akan mendengarkan keluhan petani, akibat dampak pemadatan jalur pipa. Dan jika dalam 1 bulan, persoalan ini berlum terselesaikan, maka MCL siap menghentikan pekerjaanya. “ya hasilnya seperti tadi. Selain itu kami berharap ada drainasi di kanan dan kiri area pemasangan pipa. Agar air tidak menggenangi tanaman padi petani,” Harap Wakhid, yang juga Kepala Dusun Mentoro, Desa Mentoro, Kecamatan Soko.

Terpisah, Field Public & Government Affairs Manager, Mobile Cepu Ltd (MCL), Rexy Mawardijaya. Melalui Communications Field Coordinator Public and Government Affairs MCL, Feni Kurnia Indiharti menegaskan pihaknya sudah melakukan sejumlah upaya strategis.

“Kami sedang berkoordinasi dengan Pemda dengan dinas terkait Dispenda. Untuk memberikan penjelasan menyeluruh pada masyarakat. Pada intinya MCL berupaya mengikuti aturan yang ada. Selama ada dasarnya dan memang diatur dalam perundangan,” tegas Feni.

»»  Baca Selanjutnya...

289 Lowongan Kades, Pemkab Siapkan Rp. 2,2 Milyar

Sebanyak 289 Kepala Desa (Kades) Se-Kabupaten Tuban akan habis masa jabatannya pada Juli 2013 ini. Sehingga untuk mengisi lowongan jabatan ini akan digelar Pemilikan Kepala Desa (Pilkades) serentak.
 
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan KB (Bapemas dan KB) Pemkab Tuban, Ahmad Amin Sutoyo. Saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Sabtu (26/1/2013) mengatakan pelaksanaan Pilkades akan dilakukan oleh panitia desa setempat.

Dengan tugas melakukan pendataan warga yang sudah memiliki hak pilih. Selanjutnya melakukan regristasi dan persyaratan yang diajukan kepada panitia Pilkades didesa. Pengundian nomor urut  calon Kades. Dan tahapan Pilkades akan dimulai sejak Mei 2013 dan pelaksanaan pemilihan pada Juli 2013.

Dan tanggal pelaksanaan Pilkades tidak diseragamkan. Karena setiap desa pelaksanaan Pilkadesnya berbeda waktunya. Karena kewenangan sepenuhnya diserahkan oleh panitia desa sesuai aturan yang ada.

Dan Pemkab Tuban hanya memberikan fasilitas berupa pendanaan. Yakni panitia desa akan mendapatkan dana berdasarkan jumlah hak pilihnya yaitu Rp. 3 ribu per pemilih. Dan total anggaran se Kabupaten yang disiapkan sebesar Rp. 2,2 Milyar.

“Proses Pilkades disertahkan panitia desa. Pembiayaan akan dilakukan dari pendapatan asli desa (PAD) dan hasil pengelolaan desa sendiri. Pemkab hanya memberikan fasilitas berupa uang tunai pada desa untuk digunakan proses Pilkades. Besarnya tidak sama, setiap 1 hak pilih sebesar Rp. 3 ribu,” jelas Amin.
»»  Baca Selanjutnya...

Rabu, 23 Januari 2013

MENGENDALIKAN HAMA UTAMA TANAMAN PADI

Berikut tips mengendalikan beberapa hama penting tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan :
A. Hama pada fase persemaian
  1. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens).  Hama ini dapat menyebabkan tanaman padi mati kering dan tampak seperti terbakar atau puso, serta dapat menularkan beberapa jenis penyakit. Tanaman padi yang rentan terserang wereng coklat adalah tanaman padi yang dipupuk dengan unsur N terlalu tinggi dan jarak tanam yang  rapat merupakan kondisi yang disenangi wereng coklat. Beberapa varietas tertentu terutama ketan juga sangat rentan terhadap wereng. Pengendalian bisa dilakukan dengan penggunaan varietas tahan, pengurangan penggunaan pupuk N dan insektisida aplaud, mipcin, winder, konfidor, OBR, plenum dll
  2. Wereng Hijau (Nephotettix virescens). Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vector) virus tungro yang menyebabkan penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang rentan serangan wereng hijau adalah saat fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam. Sama seperti wereng coklat pengendalian wereng hijau bisa dilakukan dengan penggunaan varietas tahan, pengurangan penggunaan pupuk N dan insektisida aplaud, mipcin, winder, konfidor, OBR, plenum dll
  3. Hama Putih Palsu (Chanaphalocrosis medinalis). Hama putih palsu menyerang bagian daun tanaman padi, larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Tanda pertama adanya infestasi adalah kehadiran ngengat di sawah. Ngengat berwarna kuning coklat, pada bagian sayap depan ada tanda pita hitam sebanyak tiga buah yang garisnya lengkap atau terputus. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga. Pengendalian yang bisa dilakukan dengan pengeringan sawah selama 3 hari, atau penggunaan insektisida regent, buldok, decis, virtako dll
  4. Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar apabila tikus menyerang pada saat primodia. Tikus akan memotong titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan bulir gabah.
    Tikus menyerang pada malam hari dan pada siang hari tikus bersembunyi di lubang pada tanggul irigasi, pematang sawah, pekarangan, semak atau gulma. Pengendalian dilakukan dengan cara menggunakan musuh alami (tyto alba, ular, garangan dll), umpan racun, jebakan, gropyokan, pengemposan dll
  5. Keong Mas (Pomacea canaliculata). Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang per tanaman. Waktu kritis untuk mengendalikan serangan keong mas adalah pada saat 10 hst atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Pengendalian dengan cara membuat parit disekeliling petak sawah lalu diberikan umpan daun-daunan dan menggunakan molusida baylucide, fatal, dll
B. Hama pada fase vegetatif
  1. Penggerek Batang (Tryporiza sp.). Adalah hama yang menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Serangan yang terjadi pada fase vegetatif, daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuh dimakan larva penggerek batang. Pucuk tanaman padi yang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut (gejala ini biasa disebut Sundep). Apabila serangan terjadi pada fase generatif, larva penggerek batang akan memakan pangkal batang tanaman padi tempat malai berada. Malai akan mati, berwarna abu-abu dan bulirnya kosong/hampa. Malai mudah dicabutdan pada pangkal batang terdapat bekas gerekan larva penggerek batang (gejala ini biasa disebut Beluk). Pengendalian bisa dilakukan sejak dipesemaian dan dipertanaman umur 15 hst, 30 hst dan 40 hst dengan menggunakan regent, virtako, spontan, manuver dll
  2. Wereng Hijau (Nephotettix virescens). Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vector) virus tungro yang menyebabkan penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang rentan serangan wereng hijau adalah saat fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam.
  3. Hama Ganjur (Pachydiplosis oryzae). Stadia tanaman padi yang rentan terhadap serangan hama ganjur adalah mulai dipersemaian sampai pada pembentukan malai. Gejala serangan ganjur adalah daun padi akan menggulung seperti daun bawang, sehingga tanaman yang terserang tidak dapat menghasilkan malai. Pengendalian bisa dilakukan dengan menggunakan regent, winder, konfidor, virtako, spontan, manuver dll
  4. Keong Mas (Pomacea canaliculata). Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang per tanaman. Waktu kritis untuk mengendalikan serangan keong mas adalah pada saat 10 hst atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah).
C. Hama pada fase generatif
  1. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens). Hama ini dapat menyebabkan tanaman padi mati kering dan tampak seperti terbakar atau puso, serta dapat menularkan beberapa jenis penyakit. Tanaman padi yang rentan terserang wereng coklat adalah tanaman padi yang dipupuk dengan unsur N terlalu tinggi dan jarak tanam yang merupakan kondisi yang disenangi wereng coklat. Hama wereng coklat menyerang tanaman pada mulai dari pembibitan hingga fase masak susu. Gejala serangan adalah terdapatnya imago wereng coklat pada tanaman dan menghisap cairan tanaman pada pangkal batang, kemudian tanaman menjadi menguning dan mengering.
  2. Wereng Hijau (Nephotettix virescens). Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vector) virus tungro yang menyebabkan penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang rentan serangan wereng hijau adalah saat fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam. Gejala kerusakan yang ditimbulkan adalah tanaman kerdil, anakan berkurang, daun berubah menjadi kuning sampai kuning oranye.
  3. Penggerek Batang (Tryporiza sp.). Adalah hama yang menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Serangan yang terjadi pada fase vegetatif, daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuh dimakan larva penggerek batang. Pucuk tanaman padi yang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut (gejala ini biasa disebut Sundep).Apabila serangan terjadi pada fase generatif, larva penggerek batang akan memakan pangkal batang tanaman padi tempat malai berada. Malai akan mati, berwarna abu-abu dan bulirnya kosong/hampa. Malai mudah dicabutdan pada pangkal batang terdapat bekas gerekan larva penggerek batang (gejala ini biasa disebut Beluk).
  4. Hama Ganjur (Pachydiplosis oryzae). Stadia tanaman padi yang rentan terhadap serangan hama ganjur adalah mulai dipersemaian sampai pada pembentukan malai. Gejala serangan ganjur adalah daun padi akan menggulung seperti daun bawang, sehingga tanaman yang terserang tidak dapat menghasilkan malai.
  5. Ulat Grayak (Armyworm). Hama ulat grayak menyerang tanaman dengan memakan daun dan hanya meninggalkan tulang daun dan batang. Larva ulat grayak menyerang tanaman padi sejak di persemaian sampai fase pengisian. Serangan akan parah saat musim kemarau dan tanaman kekurangan air. Pengendalian dilakukan saat malam hari dengan menggunakan larvin, virtako, dipel, turex dll
  6. Hama Putih Palsu (Chanaphalocrosis medinalis). Hama putih palsu menyerang bagian daun tanaman padi, larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Tanda pertama adanya infestasi adalah kehadiran ngengat di sawah. Ngengat berwarna kuning coklat, pada bagian sayap depan ada tanda pita hitam sebanyak tiga buah yang garisnya lengkap atau terputus. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga.
  7. Tikus Sawah  (Rattus argentiventer). Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar apabila tikus menyerang pada saat primodia. Tikus akan memotong titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan bulir gabah.
    Tikus menyerang pada malam hari dan pada siang hari tikus bersembunyi di lubang pada tanggul irigasi, pematang sawah, pekarangan, semak atau gulma.
D. Hama pada fase pemasakan
  1. Walang Sangit (Leptocorixa acuta). Walang sangit merupakan hama yang menghisap cairan bulir pada fase masak susu. Kerusakan yang ditimbulkan walang sangit menyebabkan beras berubah warna, mengapur serta hampa. Hal ini dikarenakan walang sangit menghisap cairan dalam bulir padi. Fase tanaman padi yang rentan terserang hama walang sangit adalah saat tanaman padi mulai keluar malai sampai fase masak susu. Pengendalian bisa dilakukan dengan menggunakan regent, manuver, virtako dll
  2. Tikus Sawah  (Rattus argentiventer). Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar apabila tikus menyerang pada saat primodia. Tikus akan memotong titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan bulir gabah.
    Tikus menyerang pada malam hari dan pada siang hari tikus bersembunyi di lubang pada tanggul irigasi, pematang sawah, pekarangan, semak atau gulma.
  3. Ulat Grayak (Armyworm).  Sebenarnya larva ulat grayak bisa menyerang tanaman padi sejak di persemaian sampai fase pengisian. Serangan akan parah saat musim kemarau dan tanaman kekurangan air. Pada fase ini biasanya ulat grayak menyerang tanaman padi dengan cara memotong malai padi sehingga akan membuat kerugian yang sangat besar.
  4. Burung (Lonchura spp.). Burung menyerang tanaman pada fase masak susu sampai padi dipanen. Burung akan memakan langsung bulir padi yang sedang menguning sehingga menyebabkan kehilangan hasil secara langsung. Selain itu burung juga mengakibatkan patahnya malai padi. Pengendalian hama burung bisa dilakukan dengan cara pengusiran dengan membuat ajir berwarna merah disekitar sawah atau dengan menggunakan tali-tali yang dikasih kaleng/ plastik atau dengan menggunakan jaring.
»»  Baca Selanjutnya...

HAMA PENGGEREK BATANG PADI (SUNDEP/ BELUK)

Seperti kita ketahui tanaman padi saat musim kemarau sangat rentan terhadap serangan hama penggerek batang. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang mendukung untuk berkembangnya populasi hama penggerek batang ini. Perkembangan hama penggerek batang ini akan semakin pesat ketika didukung oleh cuaca yang panas dan kondisi air yang tergenang.

Kalau kita perhatikan sebenarnya serangan hama penggerek batang ini sudah mulai saat tanaman padi berada di pesemaian. Tetapi saat di pesemaian belum menunjukkan gejala yang jelas sehingga petani kurang waspada terhadap hama tersebut. 

Telur, larva dan pupa yang berada dipesemaian akan terbawa ke pertanaman padi dan akan menunjukkan gejala ambles/ tanaman mati/ tanaman hilang saat tanaman umur 15-30 hari. Hal ini dicirikan dengan tanaman padi yang busuk dan mati, anakan semakin sedikit, bahkan tanaman padi bisa hilang ketika umur muda. Saat tanaman padi umur 30- 45 gejala ditunjukkan dengan menguningnya daun muda tanaman padi (kadang layu/ menggulung) dan mudah dicabut (sundep). Gejala ini akan berlanjut ketika tanaman memasuki vase generatif dengan gejala adanya malai tanaman padi yang tegak dan mudah dicabut karena bulirnya tidak berisi (beluk).

Karena serangan hama penggerek batang ini dimulai sejak dipesemaian maka kitapun dalam mengendalikan hama ini harus dimulai dari pesemaian. Memang cara ini sedikit bertentangan dengan konsep Pengendalian Hama secara Terpadu, tapi apa boleh buat. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah:
  1. Gunakan benih padi yang tahan terhadap serangan hama ini (situbagendit dan IR 64)
  2. Aplikasi insektisida seedtreatmen pada benih sebelum tanam (merendam benih dengan regent/ cruiser dll)
  3. Saat pesemaian umur 5 hari aplikasikan insektisida granule (regent G atau Furadan)
  4. Ketika pesemaian berumur 18 hari dan siap tanam semprot dengan insektisida (Spontan, regent, virtako, dll)
  5. Saat aplikasi pemupukan dasar/ pertama campur dengan insektisida granule sesuai dengan dosis rekomendasi. Kalau boleh saya menyarankan pakai regent atau wingran saja karena lebih ramah lingkungan.
  6. Ketika tanaman padi berumur 20 dan 40 hst semprot dengan insektisida pengendali hama penggerek batang (Spontan, virtako, regent, panser, trisula dll)
Dengan menggabungkan keenam cara pengendalian tersebut akan mempersempit ruang hidup bagi hama penggerek batang pada tanaman padi kita. Yang perlu diperhatikan adalah dalam menggunakan insektisida hendaknya yang selektif, gunakan insektisida yang benar-benar direkomendasikan untuk mengendalikan hama penggerek batang pada tanaman padi. Selain itu dalam menggunakannya juga harus sesuai dengan dosis dan konsentrasi anjuran.

»»  Baca Selanjutnya...